My Ricing Journey

As far as i remember i've started ricing since early 2015, maybe late 2014 but i couldn't find the screenshot. Using ElementaryOS as my first distro, i started my ricing journey. The oldest screenshot i could findWho miss Kyoukai no Kanata? I am :' In 2015 i'm still student at vocational high school, with software… Lanjutkan membaca My Ricing Journey

Saya, Pulpstone, dan LUCI

Pernah suatu hari, saat mengutak-atik router saya, saya me-flashnya dengan Pulpstone LEDE yang tanpa LUCI karena sebelumnya saya bosan dengan Chaos Chalmer dan wifi tak dapat digunakan. Seperti biasa router yang telah di-flash otomatis reboot. Nah, sehabis reboot saya ingin menghubungkannya ke internet lewat wifi tethering dari ponsel. Saya pun membuka browser dan langsung menuju… Lanjutkan membaca Saya, Pulpstone, dan LUCI

Tampilkan Whiskermenu Dengan Tombol Super Tanpa Mengganggu Shortcut Lain

Ya, benar, saya menulis tulisan ini semata-mata sebagai reminder bagi diri sendiri. Sudah lama saya menggunakan cara ini, namun setiap kali sehabis instal ulang, saya selalu lupa dan harus mengubek-ubek internet lagi. Tombol super pastinya sangat penting bagi kamu yang terbiasa dengan shortcut pada sistem operasi windows seperti kombinasi w+e yang akan membuka explorer, w+r… Lanjutkan membaca Tampilkan Whiskermenu Dengan Tombol Super Tanpa Mengganggu Shortcut Lain

Self Reminder – App Wajib Di Archlinux

Setelah sekian lama nggak posting (lagi-lagi), sekarang saya mau posting sebagai reminder untuk diri saya khususnya, dan bagi kamu-kamu yang bingung mau pasang apa aja di mesin arch kamu. Sebenernya juga di mesin saya nggak banyak-banyak amat package-nya, tertanggal 8 september 2017, pukul 09.34 wib cuman 1192 paket yang terpasang, itu aja banyak banget yang… Lanjutkan membaca Self Reminder – App Wajib Di Archlinux

Warnai Desktop Otomatis dengan xfcolorizer

https://github.com/reorr/xfcolorizer/raw/master/screenshots/2017-05-30-141559_1280x800_scrot.png

Ceritanya saya suka modding desktop, tapi lama kelamaan bosen tema yang ada cuma itu-itu saya. Saya menggunakan lingkungan destop xfce yang tidak mendukung perubahan warna jendela otomatis sesuai dengan warna latar belakang. Setelah saya menjelah, saya menemukan tema yang enak untuk tampilah sehari-hari, namun, ya itu tadi, hanya ada beberapa fork dari tema tersebut, sehingga… Lanjutkan membaca Warnai Desktop Otomatis dengan xfcolorizer

Kenapa Saya Menggunakan Arch Linux

Seperti biasa sebelum memasuki inti cerita, saya ingin bercerita terlebih dahulu. Sudah lebih dari setahun sejak tulisan pertama saya yang berarti sudah lebih dari setahun pula saya bermigrasi penuh dari Windows ke Linux. Sistem operasi berbasisi Linux yang pertama kali saya gunakan adalah Ubuntu, karena dari saran-saran yang saya baca, untuk pemula disarankan menggunakan Ubuntu.… Lanjutkan membaca Kenapa Saya Menggunakan Arch Linux